Pages

Jumat, 25 Agustus 2017

Salam Damai untuk Para Ibu

Haloo, selamat sore buibu yang cantik luar biasa di luar sana. . Gimana nih persiapan weekendnya ?? Heheeh sudah banyak planning pastinya sama keluarga. .

Anyway, tulisan saya yg ini itu terlandasi krna belakangan ini muncul fenomena seorang Ibu yg melahirkan anaknya secara normal dan dengan bangga nya mengecilkan para ibu ibu yang melahirkan secara caesar. Ditambah lagi, entah itu sosok pemuka agama dari bagian bumi yg mana, bilang kalo wanita yg melahirkan secara Caesar itu di dalamnya diganggu oleh jin atau setan. .
What the. .   ??!!!😖😫
Subhanallah, ini mungkin yg namanya bentuk nyata dari ajaran yg sesat ya buibu.

Dan apa yg merebak serta viral saat ini pun sebetulnya sudah terjadi di lingkungan sosial kita sejak lama sehingga beberapa Ibu yg mungkin kurang hiburan dan piknik jadi tersugesti dan semakin membentuk barikade untuk menyerang ibu yang lainnya. . Ya Ampunn, kok yaa semacam kurang kerjaan tohh??!

Menurut saya sebaiknya jangan lah mengklaim diri sendiri sebagai Ibu yg paling benar hanya karna bisa melahirkan normal dan bukan caesar, atau krna bisa kasih Full ASI dan bukan campur SuFor, atau bahkan karna menjadi Ibu Rumah Tangga dan bukan Ibu yg Bekerja

Hellow, kita nih sama sama Ibu Ibu loh Sist, Mbak, Tante. .  Mau bagaimanapun cara melahirkan, apa yg dikasih ke anak atau bahkan pola asuh, kita semua pasti mau yg terbaik buat anak kita. Betul ndak?

Ibu yg melahirkan secara normal bisa merasakan mules yg luar biasa bahkan ada yg sampai berhari-hari, meregang mempertaruhkan nyawa untuk menghadirkan seorang makhluk baru dan
merasakan sedapnya dijahit atau bahkan diobras.

Ibu yg melahirkan secara SC pun ada juga lho yg ngerasain mules dulu dan krna kondisi 1 dan lain hal, akhirnya musti merasakan "gurihnya" suntikan alergi, perut musti dibelek dan merasakan "nikmatnya" bergerak pasca Operasi. .

Ibu yg kasih ASI makannya musti dijaga krna apa yg dimakan akan ngaruh ke si bayik. Alhasil, yg tadinya hobby nyeruput kopi pun mesti say good bye dulu demi si buah hati.

Ibu Yg kasih Sufor pun pasti sudaah melewati masa masa perjuangan untuk bisa kasih ASI Full, payudara bengkak atau lecet, bangun malam untuk coba pumping buat pancing ASI. Namun apa daya, krna dikasih sama Gusti Allah takarannya musti ditambah dgn Sufor yaa akhirnya musti tambah.

Itu smw krna apa toh? Krna kita semua mau yg terbaik buat anak kan?? Iya po iya??

Ibu ibu yang mnjadi rumah tangga pun pasti ngerasain lelah ngurus anak, mberesin rumah (kalo yg gak punya ART), masak buat suami dan anak. Susah keluar rumah krna jagain anak. Kadang jadi dilanda kebosanan bin ke-BTan dan butuh piknik. .

Kondisi itu sama sperti ibu yg bekerja, yg musti bangun pagi bahkan kadang lbh pagi dibanding ibu ibu lainnya krna musti masak buat anak dan jadi stylist suami yg juga akan berangkat kerja. Pas tanggal 25 mesti bagi bagi jatah rejeki bukan hanya untuk anak aja, tp ada tanggung jawab buat org tua, atau keluarga. Nyampe kantor mesti atur waktu buat kerja, istirahat, dan pumping ASI. Bawa gembolan banyak krna ada cooler bag buat ASI.

Sama Buuk, butuh piknik jugaa. Krna sama sama harus menjalankan peran sebagai menteri dalam negeri dan menteri keuangan secara bersamaan. .

Jadi buibu, hayuklah stop mengklaim diri Anda lbh baik dibanding yg lain hanya karna Anda dikasih kesempatan sama Tuhan untuk melakukan cara cara yg dianggap oleh norma sosial sebagai hal yg normal.

Kita ini sama, gelar kita sama. Dipanggil sama anak-anak juga gak jauh dari Ibu, Bunda, Mama, Mami, Mommy, Madam, Emak, Enyak, Ummi, Ummah, atau panggilan cute kayak Bubu, Bubun, Amam atau Manda (eeh itu saya. Hehehe).

Apa ada yg dipanggil sama anaknya dgn sebutan Nyonya, Prof, atau Dok??

Even Ibu Sri Mulyani yg cerdasnya luar biasa atau Ibu Tri Rismaharini yg leadershipnya berhasil mberesi Surabaya gak mungkin dipanggil BukMen (Ibu Menteri) atau BukWal (Ibu Walikota) sama anaknya.

Apapun background pendidikan , keluarga, atau pekerjaan kita, tujuan kita tetap sama kok yaitu memberikan yg terbaik buat anak anak kita.

So, Lebih baik kita sharing hal hal yg positif, kayak info kekinian tentang kesehatan anak, pola asuh yg sesuai sama generasi anak masa kini, online shop yg sering kasih diskon, tmpat pampers dan susu yg murmer atau masakan yg endeuz nan bergizi buat bocil . Itu lbh bermanfaat buat buibu yang lain loh. .

Lebih baik menebar hal positif Buibu sayang, jadi Anda itu gak dilihat sama org lain sebagai sosok yg gemar menebar kebencian dan hobby memprovokasi org lain . Negatif banget. . Sayang amal kebaikan yg sudah dilakuin selama ini. .

Jadi ibaratnya jangan mbanding mbandingi antara karbohidrat dan protein, krna dua duanya punya manfaat sendiri dan dibutuhkan buat tubuh manusia.

Oke well, Semoga hati kita senantiasa bersih dari segala buruk sangka terhadap sesama ibu ibu yaa buibuu.

Ingatlah Buibu, generasi penerus Indonesia atau bahkan dunia masa depan itu akan dicetak melalui pola asuh dan pendidikan dari tangan kita loh. . So, mari bersatu untuk hal yang baik dan bermanfaat 😊

Happy weekend, slaam sayang dari Dinda. .

Jumat, 11 Agustus 2017

B I R U

Sada memeluk Jani dengan erat. Tubuh Jani bergetar, tangisnya tumpah tak tertahan. Nafasnya sesak, terdengar kata-kata yang keluar dari mulutnya terbata-bata. Dalam hati Sada, semua permohonan maaf sudah dia berikan untuk Jani, namun logikanya tetap menolak dengan keras.

Pengakuan Jani mengenai Biru seolah meruntuhkan tembok pertahanan hidupnya. Bagaimana bisa selama ini wanita yang dijaganya selama 5 tahun mampu berpaling sebegitu hebatnya, bermain hati, emosi, dan dengan sadar memberikan perasaan untuk laki-laki lain?
Bagaimana bisa selama ini kepercayaan yang diberikannya ternodai begitu saja hanya melalui pertemuan yang amat singkat ?
Bagaimana bisa 5 tahun ini seolah tak berarti apa apa untuk Jani ???

Banyak tanya yang melintasi pikirannya, ingin rasanya Sada membalas kekecewaannya kepada Jani, namun ia tak bisa.
Baginya Jani bukan hanya kekasih (seperti status yang orang lain tau selama ini), tapi lebih dari itu. Jani sudah terlalu dalam memasuki hidupnya.

Jan, buat nyentuh kamu aja aku hati-hati banget. Aku gak mau sampe kamu ngerasa gak nyaman. Aku selalu nanya, kalo aku gini kamu gimana, kalo aku gini kamu marah gak?”
“Tapi dia, dia yang baru kamu kenal 1 bulan, dia yang gak paham keluarga kamu, dia yang orang baru, bisa bisanya kamu dengan pasrah ngasih semuanya ke dia?”
“Apa aku gak kebayang sama sekali Jan di dalam pikiran kamu, waktu kamu lagi sama dia?” 
“dan saat kamu chat atau bahkan nelpon aku setelah kamu sama dia, apa yang kamu rasain ??”

Semua pertanyaan Sada bagaikan bola besar yang mendorong Jani ke sebuah sudut ruangan, yang membuat dia terperangkap, dan tak mampu mengelak. Jani hanya bisa menangis, tak sanggup dia memandang wajah Sada apalagi menatap matanya. Yang bisa ia katakan hanyalah maaf dan maaf. Hatinya sudah terlanjur mencintai Biru. Jani pun sulit untuk menjelaskan kenapa hatinya bisa berbalik dan berpaling sebegitu kuatnya dari Sada.

Sad aku minta maaf, aku ga tau mesti jelasin apa. Aku juga gak tau kenapa aku bisa jatuh cinta sama Biru saat aku masih sama kamu. Aku gak bisa bilang apa apa Sad, aku minta maaf”

Jani berlutut di hadapan Sada, wajahnya ditutup dengan kedua tangannya

Aku sama sekali gak bermaksud jadi orang jahat, aku sama sekali gada niat untuk jadi sembilu yang memisahkan ikatan hubungan siapapun. Aku hanya ingin bahagia, dan aku bahagia saat aku sama Biru. Aku juga ingin tanya sama Tuhan kenapa saat itu Tuhan menggerakkan Biru untuk membeli lukisan itu. Itu awal dari semua ini, dan bukankah itu takdir Tuhan juga??”

“Semua orang menghakimi seolah aku telah membunuh kebehagiaan hidup orang lain. Tapi apa terlintas dalam pikiran mereka, bahwa hidupku pun hancur ??”

Kalian salah, Jan. Kamu membela diri sekuat apapun juga tetap salah. Dia itu fatamorgana . Mau sebesar apapun kebahagiaan yang kamu rasain saat kamu sama dia, tetap saja semu dan salah”

Jani berdiri, jarinya mengusap air mata yang sedari tadi mengalir deras dari pelupuk matanya. Dia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak. Sambil berjalan mundur dan berbalik dari hadapan Sada, Jani berkata. . . .

“Biru bukanlah kesalahan, Dia adalah kebahagiaanku yang nyata dan tidak disengaja.”

search through Amazon