Pages

Kamis, 16 Februari 2012

Apa sih Motivasi Psikologis Para Teroris ?


Amrozi, Noordin M, Top, Imam Samudera. Dulmatin, Dr. Azhari, Ali Gufron, Ibrahim, Muhammad Syarif, dan entah deretan nama tersebut akan berhenti sampai di situ saja atau bahkan terus bertambah. Diawali dari tragedy WTC tahun 2000 silam, istilah teroris mulai menyeruak ke kalangan masyarakat. Kejadian yang disebut-sebut merupakan hasil dari tangan dingin Osama Bin Laden nyatanya memang menjadi tonggak awal ‘perkembangan’ terorisme di dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Kasus Bom Bali yang merenggut nyawa ratusan jiwa yang tidak berdosa sama halnya dengan tragedy WTC di Amerika Serikat. Terhitung sejak saat itu, POLRI seakan memiliki job baru. POLRI bahkan sampai harus membuat sebuah detasemen khusus anti terror yang dikenal dengan Densus 88. Kebanyakan dari para teroris yang telah disebutkan namanya di atas mati konyol karena tubuh mereka ikut hancur bersama kepingan logam yang terdapat dalam bom. Bahkan, tubuh mereka itulah yang pertama kali mersakan dahsyatnya ledakan, sebelum pada akhirnya juga menewaskan ratusan jiwa. Beberapa di antara mereka yang tidak merasakan ‘hangatnya’ ledakan, justru harus mencicipi peluru panas dari si penembak jitu. Jika dilihat secara kasat mata seperti itu, apa keuntungan yang mereka peroleh? Alih-alih melakukan jihad atas nama agama, mereka bahkan malah merusak tatanan agama mereka sendiri. Jika mereka berdalih apa yang mereka lakukan tersebut dilatarbelakangi atas dasar persatuan dan kesatuan bangsa, mereka nyatanya malah mencabik-cabik ketenangan bangsa sendiri. Lalu apa sebenarnya yang menjadi alasan utama mereka menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang teroris? Motivasi seperti apa pula yang mereka dapatkan, sehingga hati mereka seakan mantap untuk membunuh ratusan jiwa yang tidak bersalah? Melalui tulisan ini, saya akan mencoba untuk menguraikannya.
Beberapa ilmuwan yang tertarik untuk meneliti mengenai teroris ini menemukan bahwa sebagian besar orang yang merasa bahwa dirinya menyatu dalam kelompok (semacam kelompok teroris) akan bersedia untuk melakukan tindakan-tindakan yang ekstrem, bahkan bersedia mati untuk kebaikan kelompoknya. Menurut Martha Crenshaw (2007), ada penjelasan yang berkaitan antara  perilaku, tingkat individu, dan kelompok. Jika seseorang memutuskan untuk terlibat dalam kekerasan politik dan menimbulkan perasaan antisocial, maka seringkali motivasi yang melatarbelakanginya adalah ketidakpuasan pribadi dengan hidup dan prestasinya. Di saat yang bersamaan, teroris memproyeksikan perasaan anti sosialnya kepada orang lain, sebagai bentuk pembenaran dari perbuatannya.
Pada tingkat kelompok, motivasi psikologis merupakan intensitas dinamik kelompok di antara para teroris. Mereka yang ada dalam kelompok tersebut menuntut kebulatan suara, dan para anggotanya tidak diizinkan untuk membangkang. Intensitas pertemuan yang terdapat dalam kelompok tersebut mengakibatkan timbulnya rasionalisasi terhadap tindakan kekerasan. Oleh karena itulah, para pelaku teroris ini bukanlah seseorang yang memiliki penyakit atau kelainan jiwa. Dalam penelitian empiris yang dilakukan oleh Crenshaw, tidak ditemukan adanya kecendrungan psikopat dalam kelompok teroris ini.
Para teroris ini, seperti yang diungkapkan oleh State Department (2002) merupakan para individu yang tidak memiliki rasa moral sedikitpun. Teroris ini tidak hanya membunuh ratusan jiwa, namun juga mengancam system demokrasi, ekonomi, dan tatanan pemerintahan di beberapa wilayah negara. Namun kembali lagi, peran masyarakat ternyata cukup besar dalam mengembangkan jaringan teroris. Hanya saja, kita memiliki hambatan untuk menguak apa sebenarnya factor yang melatarbelakangi para teroris dalam melakukan aksinya dikarenakan sebagian besar para pelaku teroris ini turut hancur bersama kepingan-kepingan logam yang terkandung di dalamnya. Maka, yang dapat dijelaskan selanjutnya adalah bahwa salah satu hal lagi yang dapat menjadi motivasi seseorang untuk menjadi teroris adalah adanya perilaku yang tidak ramah dari lingkungan terhadap dirinya. Lingkungan di sini dapat mencakup lingkungan keluarga ataupun lingkungan sosialnya. Sebagai contoh saja, cerita dari warga sekitar yang tiggal dekat dengan kediaman para pelaku terror ini. Masyarakat sekitar kerap menuturkan bahwa pelaku terror ini dalam kesehariannya memang tidak memiliki kelekatan dengan tetangga sekitar, bahkan mereka cenderung menutup diri karena dianggap memiliki perilaku yang aneh dan tidak seperti warga kebanyakan. Hal ini berrarti bahwa masyarakat secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap pembentukan individu hingga menjadi teroris.
Ketika masyarakat sekitar dan keluarga menolak dia, memperlakukannya secara tidak ramah, maka individu teroris ini lantas merasa tertekan secara psikologis. Hasilnya, mereka kemudian mencari semacam tempat berteduh sebagai tempat berlindung. Disinilah kemudian, peran kelompok teroris ini menjadi bertambah besar. Kelompok ini mampu menciptakan suasana yang bersahabat bagi mereka, sehingga lama kelamaan mereka memiliki kesamaan dalam pola pikir. Segala macam bentuk doktrinasi dari pemimpin kelompok tersebut ditelan secara mentah-mentah dalam pola piker si pelaku teroris, sehingga cara berpikir mereka dapat dikendalikan oleh kelompok tersebut.
            Jika dilihat secara lebih lanjut, mereka melakukan aksi terror ini untuk keluar dari perasaan tertekan dan berusaha untuk menciptakan kehormatan dirinya dengan melakukan aksi terror tersebut. Oleh karena itulah, pemicu timbulnya perilaku ini menjadi sangat rumit. Jika dikatakan adanya alasan ekonomi, hal ini bukanlah satu-satunya alasan. Semua pihak yang ada dalam lingkungan ekologis seorang individu terus memberikan pengaruhnya. Dalam kondisi seperti ini, agen social yang mencakup pejabat pemerintahan, kurang memberikan usaha dalam menciptakan suasana yang damai dan tenteram sehingga kelompok-kelompok semacam ini terus menjamur dan berkembang secara pesat.
            Semacam halnya kasus teroris Muhammad Syarif. Dari kasus tersebut dapat terlihat bahwa latar belakang keluarga merupakan penyebab utama dari perilaku yang ditampilkannya. Dalam cerita yang ditulis dalam artikel, terlihat bahwa adanya kekurangan komunikasi antara Syarif dan orang tuanya. Bagaimanapun juga, peran orang tua dalam perkembangan anaknya merupakan hal utama yang tidak bisa ditolak lagi. Syarif tumbuh sebagai individu yang berlindung dalam sebuah kelompok, dia cenderung lebih dekat dengan kelompok terorisnya dibandingkan dengan orang tuanya. Hal ini berarti, orang tua sangat kehilangan kesempatan untuk mengendalikan kepribadian sang anak, justru mereka memberikan kesempatan yang besar untuk mempengaruhi perkembangan psikologis Syarif.
          Ketika keadaan psikologis Syarif sedang berada dalam masa kelabilan inilah, mereka kemudian memasukkan ajaran-ajaran yang mampu ‘mencuci otak’ Syarif. Perilaku dalam kesehariannya semakin berubah, mengikuti ajaran yang diterapkan dalam kelompoknya. Hubungan dia dengan orang tuanya juga menjadi berubah, dia menjadi pribadi yang antisocial dan apathy. Seiring dengan kerenggangan hubungan itulah, Syarif kemudian semakin memantapkan dirinya sebagai seorang teroris dan bersedia melakukan pembelaan atas nama agama, sebagaimana yang didoktrinkan dalam kelompoknya.

1 komentar:

Demar Fitria mengatakan...

boleh tau refrensi terkait artikel ini apa ya ? soalnya saya ada tugas untuk bikin artikel tentang jihad dan aktualisasi diri. maksih :)

Posting Komentar

search through Amazon