Pages

Jumat, 02 Desember 2016

Budaya Organisasi

Perusahaan Jepang, baik yang ada di Indonesia ataupun luar negeri terkenal sangat unggul dan termasuk cepat dalam mencapai tangga kesuksesan, karena menggunakan pendekatan adaptasi budaya dalam penjualan produknya. Keunggulan kompetitif produk Jepang adalah budaya organisasi yang akan menjadi “key-drivers. Budaya organisasi adalah “soft side,” sedangkan bagian “hard side” meliputi struktural, sistem produksi, teknologi, dan desain.

1. Pengertian Budaya Organisasi

Schein (dalam Munandar, 2001) menjelaskan bahwa budaya organisasi terdiri dari asumsi-asumsi dasar yang dipelajari, baik sebagai hasil memecahkan masalah yang timbul dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya, maupun sebagai hasil memecahkan masalah yang timbul dari dalam organisasi. Schein (dalam Munandar, 2001) juga menjelaskan bahwa budaya organisasi terdiri dari 3 tingkat. Pertama , adalah perilaku dan artifact, terdiri dari perilaku yang dapat diamati. Kedua adalah nilai-nilai, terdiri dari pola-pola perilaku yang tidak dapat terlihat. Ketiga adalah tingkatan paling dalam yang menjadi dasar dari nilai-nilai, disebut sebagai beliefs.

Menurut Tosi, Rizzo, dan Carrol (dalam Munandar, 2001) budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan, dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi. Van Muijen, Den Hartog, dan Koopman (dalam Munandar, 2001) mendefinisikan budaya organisasi sebagai kumpulan dari nilai, norma, ungkapan, dan perilaku yang ikut menentukan bagaimana orang-orang dalam organisasi saling berhubungan dan sebesar apa para anggota organisasi menggunakan tenaga dalam pekerjaan dan organisasinya. Andre (2008) menjelaskan budaya organisasi sebagai sebuah sistem dalam organisasi mengenai keseluruhan nilai dan norma yang mengatur tingkah laku, sikap dan keyakinan anggota organisasi.

Kreitner dan Kinicki (2008) menyatakan bahwa budaya organisasi adalah sebuah himpunan bersama yang di dalamnya terdapat proses memberi dan menerima asumsi secara implisit mengenai kelompok, dan menentukan bagaimana kelompok tersebut memandang dan memberikan reaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Berdasarkan definisi tersebut, terlihat adanya tiga karakteristik penting dari sebuah budaya organisasi yaitu :
a. Pertama, bahwa budaya organisasi adalah sesuatu yang sifatnya diteruskan kepada karyawan baru melalui proses sosialisasi.
b.  Kedua, budaya organisasi mempengaruhi perilaku karyawan dalam bekerja.
c.  Ketiga, budaya organisasi beroperasi di tingkat yang berbeda.

Kreitner dan Kinicki (2008) menambahkan bahwa sebuah budaya organisasi terbentuk oleh empat komponen, yaitu :
1. Nilai-nilai yang dimiliki oleh para pendirinya
2. Lingkungan industri dan bisnis,
3. Budaya nasional, dan visi dan
4. Perilaku yang dimiliki oleh pemimpin senior perusahaan tersebut.

Selanjutnya, budaya organisasi ini mempengaruhi struktur organisasi yang diadopsi oleh perusahaan dan sejumlah praktisi, kebijakan, dan prosedur yang diimplementasikan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Melalui beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, maka saya dapat menyimpulkan bahwa budaya organisasi merupakan sistem dalam organisasi yang berisi sekumpulan nilai dan norma, menentukan bagaimana para anggota organisasi berpikir, berperasaan, dan bereaksi terhadap aktivitas yang terjadi di sekitar organisasi tersebut.


2.Fungsi Budaya Organisasi

Robbins (2003) menjelaskan bahwa sebuah budaya organisasi memiliki 4 fungsi yang berperan besar dalam perkembangan dalam sebuah organisasi, yaitu:

1. Culture as liability
Budaya yang terdapat dalam organisasi dapat memperkuat komitmen organisasi dan meningkatkan konsistensi dari perilaku karyawan dalam perusahaan. Dilihat dari sudut pandang karyawan, budaya organisasi sangat berharga karena dapat mengurangi ambiguitas (ketidakjelasan). Hal ini dikarenakan, budaya organisasi mampu memberikan penjelasan pada karyawan mengenai bagaimana melakukan sebuah pekerjaan dan hal apa saja yang penting. Dengan demikian, culture as liability merupakan fungsi budaya organisasi untuk menjamin komitmen karyawan agar tidak menyimpang dari tujuan organisasi.

2. Barrier to change
Budaya organisasi menjadi sebuah kewajiban yang harus ditaati oleh para karyawan karena nilai-nilai yang terdapat dalam budaya tersebut dapat memajukan efektivitas dari sebuah organisasi. Hal ini terjadi ketika lingkungan sekitar organisasi dinamis. Ketika lingkungan tersebut mengalami perubahan yang sangat cepat, budaya yang tertanam dalam organisasi mungkin tidak lagi sesuai, sehingga konsistensi dari perilaku karyawan adalah aset yang dimiliki oleh organisasi untuk kembali menstabilkan lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat membebani organisasi itu sendiri, dan membuatnya sulit untuk merespon perubahan dalam lingkungan, sehingga pada akhirnya budaya yang tertanam begitu kuat akan menjadi penghalang tersendiri bagi organisasi karena bisnis yang sebagaimana biasa dijalankan tidak lagi efektif. Dengan demikian, barrier to change merupakan fungsi organisasi untuk menjaga kestabilan anggota organisasi saat organisasi sedang mengalami perubahan di lingkungan sekitarnya.

3. Barrier to diversity
Fungsi budaya organisasi bagian ini adalah untuk mengikat keanekaragaman pendapat yang dimiliki oleh masing-masing anggota organisasi. Fungsi ini bertujuan agar para anggota organisasi tetap berada pada satu langkah menuju tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan.

4. Barrier to acquisitions and mergers
Pada awalnya, faktor kunci yang membuat pihak manajemen mengambil keputusan untuk melakukan akuisisi (pengambilalihan) atau penggabungan perusahaan adalah masalah keuntungan dan sinergi produk. Dalam beberapa tahun terakhir, hal ini menjadi perhatian utama dari para peneliti apakah akuisisi atau penggabungan perusahaan yang dilakukan memang sesuai dengan budaya yang berada dalam
organisasi tersebut atau tidak. Jadi, fungsi budaya organisasi dalam hal ini adalah untuk mencegah terjadinya akuisisi atau penggabungan perusahaan yang tidak sesuai dengan budaya organisasi dalam suatu perusahaan.

Rabu, 19 Oktober 2016

Kaizen

Kunci sukses dari perusahaan Jepang bersaing di era globalisasi saat ini adalah karena mereka menerapkan konsep kaizen di setiap pergerakan bisnisnya. Jika diterapkan secara utuh dan konsisten, kaizen bisa mengantarkan organisasi menuju puncak kejayaan. Di bawah ini, saya akan mencoba untuk memberikan penjelasan mengenai konsep kaizen yang sudah sangat terkenal ini. 






Imai (1986) menjelaskan bahwa kaizen merupakan salah satu pendekatan budaya yang berasal dari negara Jepang dengan tujuan untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan dalam budaya kerja. Kaizen adalah improvement yang dilakukan secara berkelanjutan oleh semua anggota dalam organisasi baik dari level manajer sampai karyawan biasa. Strategi kaizen merupakan hal yang sangat penting dalam konsep manajemen negara Jepang. Kaizen lebih mengutamakan pada process-oriented dibandingkan result-oriented. Jadi, segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan harus disempurnakan terlebih dahulu sebelum memperoleh hasil yang baik. Selain itu, kaizen juga lebih mengarah pada usaha-usaha yang dilakukan oleh seorang individu dalam mencapai target yang dimilikinya, oleh karena itulah manajemen harus memberikan dukungan dan terlibat dalam semua proses pekerjaan.

Perbaikan yang dimaksudkan adalah perbaikan yang bertumpu pada SDM (Sumber Daya Manusia). Inti dari falsafah kaizen adalah mengantisipasi adanya perubahan, peka terhadap perubahan, serta melakukan perbaikan-perbaikan dengan pendekatan yang khas. Falsafah kerja Jepang ini menganggap bahwa segala cara hidup, cara bekerja, kehidupan social, rumah tangga dan segala sesuatunya harus disempurnakan setiap saat. Tujuan dari falsafah ini adalah agar tidak terlena oleh keadaan yang statis dan senantiasa melakukan perubahan ke arah yang positif agar ketahanan organisasi terhadap lingkungan dapat terjamin.

Menurut falsafah kaizen, manajemen memiliki dua komponen utama yaitu sebagai pihak yang memelihara dan melakukan penyempurnaan. Pemeliharan (maintenance) adalah kegiatan yang mengacu pada upaya mempertahankan standar yang ada, baik secara teknologi, manajerial, maupun operasi dalam perusahaan. Sedangkan penyempurnaan (improvement) mengacu pada standar yang telah ditetapkan. Semakin tinggi kedudukan seorang manajer, maka semakin banyak pula kegiatan yang dilakukan. Jika penyempurnaan telah dicapai, maka tugas selanjutnya adalah bagaimana memelihara standar baru agar diterapkan dengan benar. Jadi, penyempurnaan secara berkesinambungan hanya dapat tercapai jika karyawan selalu berusaha untuk mencapai standar yang telah ditetapkan tanpa mengabaikan adanya pemeliharaan. 

Dalam falsafah kaizen, pemeliharaan dan penyempurnaan merupakan dua komponen yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam kondisi pekerjaan. Beberapa ciri kepribadian yang harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat menerapkan konsep kaizen dalam pekerjaan adalah memiliki rasa ingin tahu yang ingin, mau belajar, disiplin, patuh pada peraturan, tidak mudah putus asa, dan tidak takut untuk menghadapi segala macam cobaan (Seng, 2007). 

Bangsa Jepang telah membuktikan bahwa bangsa dapat maju dengan menerapkan falsafah kaizen, meskipun ukuran tubuh mereka secara umum kecil, namun pikiran dan semangat kedisiplinan mereka sangat besar.

Jadi, dalam penerapannya di dalam organisasi karyawan diharapkan dapat menerapkan kaizen dengan cara memberikan respon secara kognitif, afektif, dan konatif terhadap nilai dan norma organisasi yang di dalamnya serta menunjukkan upaya penyempurnaan (improvement) dan pemeliharaan (maintenance) pada pekerjaan, keterlibatan kerja, konsistensi organisasi, proses adaptasi organisasi, dan tujuan yang dimiliki organisasi.

Kamis, 13 Oktober 2016

Tingkah Laku Inovatif

Definisi Tingkah Laku Inovatif..

Semakin bertambahnya persaingan di dunia bisnis saat ini menuntut organisasi untuk melakukan inovasi guna kepentingan perubahan dalam bertahan dan berkompetisi. Inovasi dalam sebuah organisasi dapat terjadi jika organisasi memiliki karyawan dengan tingkah laku inovatif yang tinggi. Karyawan yang berinisiatif untuk melakukan inovasi pada organisasinya memang dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap efektivitas organisasi (Ancona & Caldwell; Amabile; &Kanter dalam Nindyati, 2009). Scott dan Bruce (dalam Carmeli, Meitar, & Weisberg, 2006) juga menemukan bahwa tingkah laku inovatif yang dilakukan oleh individu merupakan
pondasi bagi high performance sebuah perusahaan.

Ditambah lagi, karyawan yang produktif pada saat ini adalah karyawan yang termasuk ke dalam generasi Y. Karakteristik khusus dari generasi Y ini adalah keinginan melakukan inovasi. Keberhasilan dari hal ini adalah adanya tingkah laku yang nyata untuk mewujudkan inovasi yang berhasil. Oleh karena itulah, melalui tulisan di bawah ini saya akan memberikan beberapa penjelasan mengenai definisi tingkah laku inovatif.

Tingkah laku inovatif pada awalnya berasal dari bahasa Latin, yaitu innovare yang berarti “membuat sesuatu yang baru” (Tidd, Bessant, & Pavitt dalam Ahmad, 2009). Thompson (dalam Ahmad, 2009) mendefinisikan tingkah laku inovatif sebagai penerimaan, pembentukan generasi, dan pelaksanaan ide-ide baru, proses, produk ataupun jasa. Menurut Wess dan Farr (dalam De Jong & Hartog, 2003) tingkah laku inovatif adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal baru‟ yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi. Tingkah laku inovatif ini identik dengan inovasi inkremental, karena melibatkan semua pihak sehingga sistem pemberdayaan sangat diperlukan dalam prosesnya.

Tingkah laku inovatif dalam dunia organisasi merupakan sebuah proses perubahan yang menghasilkan sesuatu dalam bentuk produk, proses, atau prosedur yang bersifat baru dalamsebuah organisasi (Zaltm, Duncan, & Holbek dalam Ahmad, 2009). Sementara Damanpour (dalam Ahmad, 2009) mendefinisikan tingkah laku inovatif sebagai sebuah pembentukan generasi, perkembangan, dan implementasi ide baru atau perilaku yang dapat berupa produk atau pelayanan baru, proses produksi baru, struktur atau sistem administrasi baru, serta program kerja baru bagi anggota organisasi. Tingkah laku inovatif bukan hanya sebuah intense untuk membangkitkan ide baru, tetapi juga memperkenalkan dan mengaplikasikan ide tersebut dan berkaitan dengan semua hal yang bertujuan untuk meningkatkan performance dalam perusahaan (Jansen, Kanter, West, Farr, Scott, dan Bruce dalam Carmeli, dkk ,2006).

Menurut Batteman dan Grant (dalam Sazandrishvili, 2009) tingkah laku inovatif merupakan perilaku yang secara langsung dan sengaja mengubah sesuatu dengan cara menciptakan keadaan yang berbeda dengan keadaan yang sedang aktif pada saat itu. Grant (dalam Sazandrishvili, 2009) menambahkan bahwa konstruk yang terdapat dalam tingkah laku inovatif dianggap sebagai elemen yang sangat penting bagi kelangsungan sebuah organisasi, karena mengarah pada pelaksanaan cara-cara baru dan memberikan keuntungan bagi organisasi.

Scott dan Bruce (dalam Van der Vegt & Janssen, 2003) memahami tingkah laku inovatif yang terdapat dalam dunia kerja sebagai perilaku kompleks yang terdiri dari tiga set perilaku yang berbeda, yaitu pembentukan sebuah ide, mempromosikan ide, dan merealisasikan ide tersebut. Ketika seorang karyawan telah menghasilkan sebuah ide, maka tugas selanjutnya adalah mencari teman atau sponsor untuk membangun koalisi guna membangun koalisi di belakangnya (Galbraith & Kanter dalam Van der Vegt & Janssen, 2003). Tugas terakhir adalah bagaimana merealisasikan gagasan yang telah dimiliki dengan cara memproduksi sebuah model yang dapat diuji coba dan pada akhirnya diterapkan dalam situasi pekerjaan, kelompok, atau organisasi secara keseluruhan. (Kanter dalam Van der Vegt & Janssen, 2003).

Berdasarkan beberapa definisi di atas mengenai tingkah laku inovatif, maka dapat disimpulkan bahwa tingkah laku inovatif merupakan proses pembentukan ide, mempromosikan ide, dan merealisasikan ide tersebut yang diarahkan sebagai perubahan menuju pembaruan dalam proses, produk, ataupun prosedur dalam sebuah organisasi.

Semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat untuk dapat membantu memberikan penjelasan mengenai tingkah laku inovatif. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya yaa temaan😊

Selasa, 11 Oktober 2016

Biru...

Aku biasa memanggilnya Biru..
Aku mengenalnya saat aku berjuang menyelesaikan skripsiku yang entah telah kutinggalkan berapa lama. Kami mulai intens komunikasi setelah Biru berhasil menghantarkan ku menggenggam gelar sarjana.

Bagi sebagian orang,  meraih gelar sarjana memang perkara yang tidak sulit untuk ditempuh.  Tapi buatku yang lebih menyukai aktivitas motorik ketimbang duduk membaca buku dan mengetik berjam jam di depan laptop, sungguh butuh perjuangan yang luar biasa.  Dan berkat Biru semuanya terasa ringan.
Akhirnya, setelah beberapa tahun aku berhutang kepada orang tuaku.  Lunas sudah karena bantuan Biru..

Biru adalah salah satu tenaga pengajar di kampusku.  Awalnya sebelum kami komunikasi secara intens, aku memang sudah mengidolakan dia.  Pernah satu waktu ketika aku sedang berjibaku membuat latar belakang penelitian, Biru menghampiriku. Di atas kekacauan meja perpustakaan karena aku mengumpulkan banyak buku referensi tanpa kutau mana yang harus aku gunakan,  Biru kemudian memilihkan satu buku dari tumpukkann itu.

Dia kemudian duduk di sampingku sambil menepuk pundakku seraya berkata , "Semangat ya!  Baca buku yang ini saja. Halaman 14 ada penjelasan yang kamu cari".
OMG.  Seketika mulutku seakan terkunci,  aku cuma bisa bengong memperhatikan senyumannya saat dia beranjak dari tempat duduknya sambil berjalan ke arah pintu perpustakaan.  Bilang terimakasih saja ga sempat. Mungkin itu yang namamya terpesona.  Bodohnyaa...  

Di kampus ini,  mungkin Biru jadi satu satunya dosen yang paling care sama mahasiswanya.  Mau perempuan atau laki laki,  perlakuannya sama.  Mungkin itu yg jadi salah satu penyebab Biru menjadi dosen favorit.  Kalau sudah janji bimbingan skripsi,  beliau selalu tepat waktu.  Gak akan Biru ngebiarin anak bimbingannya nunggu lama. Itu bisa menurunkan motivasi mereka,  katanya..
Two thumbs up!! I heart you, Sir..

Kalo di cerita dongeng tuh ya,  kan ada sosok Prince Charming, pangeran berkuda putih yg datang saat putri butuh pertolongan.  Ini sama persis kayak Biru. Dia bagaikan prince charming.  Hanya bedanya, Biru bukan pake kuda putih, melainkan vespa putih.  Kan zaman sekarang transportasi udah canggih dibanding  dongeng.  Hehehe

Setelah berusaha mencari akses Biru, akhirnya aku berhasil menghubunginya untuk meminta bantuan menyelesaikan skripsiku.
Entah kenapa, komunikasi kami menjadi sangat intens. Di luar pembahasan akademis,  kami sering mengobrol hal hal pribadi.

Aku semakin kagum dengan pribadi Biru.  Dalam hati kecilku,  setiap orang punya kelebihan dan kekurangan,  tapi Biru adalah salah satu yang merupakan paket hampir lengkap. Sempat terbesit beruntungnya tunangan Biru. Dicintai oleh pribadi yang sperti ini.

Secara mendalam, Biru itu sebetulnya pribadi yang sensitif dan emosional.  Selain itu,  agak besar kepala dan gak mau kalah kalau berdebat.. Mau itu bahas hal hal penting,  sampe ga penting kayak warung sea food aja, Biru selalu mau jadi yang paling benar.
Hehehe,  anything for you lah Biru..

Kalo dilihat dari teori 4 sifat manusia berkembang berkat jasa Opa Hippocrates dan Galenus, Biru ini kok ya seperti kombinasi Melankolis-Sanguinis..  Dua sifat ini sebetulnya bertolak belakang banget..  Yg satu introvert, satunya lagi extrovert.

Kenapa aku bilang melankolis?  Karna Biru ini punya rasa empati yang tinggi. Semakin jauh kami komunikasi,  Biru banyak cerita..  Dan ada satu cerita yang membuatku terkesan sampe saat ini.

Satu waktu pernah Biru punya anak bimbingan skripsi yang tiba tiba menghilang. Biru penasaran dan mencari cari informasi ttg anak itu. Usut punya usut ternyata anak mahasiswa itu sedang mengalami masalah finansial. Ayahnya meninggal dunia sementara ada 3 orang adiknya yang masih sekolah.  Si anak bimbingan Biru ini ga bisa bayar perpanjangan SKS skripsi krna mendahulukan kepentingan adik-adiknya.

Tanpa ragu ragu Biru langsung menarik sejumlah uang dari tabungannya dan menyuruh anak bimbingan itu datang menemuinya di kampus esok hari.

"Kamu harus lanjutkan skripsi kamu demi adik adik kamu.  Tanggung sudah tinggal selangkah lagi kamu bisa menafkahi ibu dan adik adik kamu dengan ijazah S1mu". Hampir sujud anak itu di kaki Biru.  Akupun yang mendengar ceritanya pun cuma bisa memujinya dalam hati.  Di tengah tengah masyarakat yg individualis seperti ini,  msh ada ternyata hati hati malaikat seperti Biru. Ah,  beruntungnya aku, Biru. Saat itu aku bisa besandar di bahumu. .

Belum lagi, Biru juga pernah cerita kalo salah satu impiannya adalah jadi guru di desa yang miskin.. Perkembangan zaman yg semuanya serba canggih ini ternyata gak membuat sisi altruisme Biru berkurang.  Di saat manusia lain punya impian growing up di tengah tengah kota besar,  Biru malah kebalikannya.  Sungguh,  aku kagum dibuatnya.

Di sisi lain,  Biru adalah pribadi yang perfeksionis.  Tubuhnya yang tegap selalu dibalut dengan busana yang rapi dan sporty.  Belum lagi,  aroma tubuhnya yang selalu membuatku merasa tenang. Gak jauh beda lah sama aroma therapy.  Hehehe..  Bisa bikin pikiran relax.

Oh iya,  Biru juga sering diet loh.  Hadeuhh aku kok kayaknya kalah telak ya sama dia.  Aku yg montok begini ndak pernah bisa diet. Bawaannya ga tega kalo liat cemilan kesepian.

Setiap kali merasa badannya sudah berat kalo diajak aktif,  Biru pasti langsung diet.  Konsisten loh.  Di atas jam 5 sore Biru hanya minum air putih atau jus buah saja.  Walaupun masih mbimbing anak mahasiswanya dan kadang kelelahan,  Biru tetap teguh diet. Salut!!

Sisi emosional juga bagian dari melankolis.  Aku prnah dnger crta Biru suka marah marah sndiri sama supir angkot atau kopaja di Jalan.  Hadeeh dear,  kamu percuma marah marah sama mereka.  Supir angkot dan kopaja itu paling jago menerapkan wajah innocent.  Hahaha ga ngaruh dimarahin juga.  Malah kamunya nnti yang tambah kesel. Hehe

Mungkin Biru sekali sekali mesti ikutan art therapy buat memperbaiki sisi emosionalnya..

Akupun sebetulnya melihat ada sisi introvert dari Biru.  Walaupun Biru terlihat sangat supel, even dengan mahasiswa atau rekan kerja.  Tapi kok aku merasa Biru sepertinya kurang nyaman kalo ada di tengah tengah keramaian.

Belum lagi,  trnyata Biru suka lagunya Bruno Mars yg When I Was Your Man..  Adeuuhh itu lagu kan membunuh banget.  Cuma pribadi melankolis yg suka lagu ini..

Nah,  kalo sisi sanguin nya yg bertolak belakang banget dengan melankolisnya itu trlihat dari bentuk dahinya.  Terlihat spertinya Biru itu selalu ingin menjadi yang star dibanding yg lain dalam komunitasnya.  Trus Biru juga rasa keingin tahuannya tinggi. Ditambah lagi,  Biru senang banget kalo dipuji.  Hahahhaa apalagi suka narsis muji diri sndiri.  Hehehe

Kalo masalah nada suara yang keras ada kemungkinan juga ada pengaruh dari culture backgroundnya Biru.  Tapi jadi mmbuat beliau trlihat sanguinis.

Wajahnya yang rupawan sebenernya hanya pelengkap dari pribadinya. Walaupun semisal wajahnya gak rupawan,  kalo pribadinya begitu sih siapapun bisa meleleh juga dibuatnya..

Entah kenapa,  smart and kind hearted man always attract me..

Pernah ada sesuatu yang menurutku lucu.
Satu hari, ceritanya Biru cerita kalo kmrn malem  nobar final liga champions. Besok paginya,  Biru kirim message ke ak foto nya bersama para temannya.  Kok aku ngerasa kayaknya dia kurang cocok yaa jadi anak gaul gitu.  Hehehehe i mean,  a man like him is more suitable to be a date partner.  Nonton film bareng,  travelling bareng.  Kayaknya lbih cocok buat Biru dibanding hura hura nnton final bola...

Hari makin hari aku dan Biru makin intens komunikasi.  Aku sangat nyaman dengan dia.  Entah..  Yg aku rasakan cuma ingin selalu komunikasi dengan dia. Kalo bisa lebih,  aku anggap itu rezeki.

I fell everytime for him..  Over and over...
Kalo Raisa bilang sih "Ku tak harus memilikimu,  tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?? "..

Kadang suka ngerasa, kenapa Biru itu dilahirkan sebelumku.  Jadi kan Kami ketemunya terlambat. Hikss..

Aku jatuh cinta dengan pribadinya.  Terlepas bagaimana Biru menganggapku,  aku ga begitu peduli.  Apa Biru hanya memanfaatkan keadaan karna mungkin Biru sadar aku pake hati,  atau memang Biru betul nyaman denganku juga,  aku tutup mata.

Bodoh yaa??  Bodoh ga sih kalo begini??  Engga lah yaaa..

Pertemuanku dengan Biru itu bagaikan memory yang paling indah.  Pinginnya diulang terus,  tapi gimana yaa caranyaa.. Biru kini sudah terikat komitmen dengan wanita yang menurutku paling beruntung sedunia..

Tapi sebetulnya aku agak sdikit bangga dengan diriku sndiri.  Sekangen apapun aku sama Biru,  aku bisa kontrol emosi.  Gak membabi buta hubungi beliau.  Kalopun udah kangen super tingkat mahkamah agung,  paling aku message dia..  Kalo direspon, rezeki.  Kalo engga ya paling gigit pensil. . Hehehe

Kadang suka kepikiran.  Biru lupa atau gak ya sama kenangan kami kemarin kemarin itu. Makan sea food dan gudeg bareng.  Beli jajanan pasar.  Heheh Biru favorit sekali sama makanan makanan itu.

 Kadang pingin tau juga perasaan Biru sbnrnya ke aku tuh gimana.  Apa yg kayak tadi,  hanya memanfaatkan aku atau memang bener sayang sesuai panggilan sayang yg pernah ada buat aku.

Tp kayaknya Biru ga suka sih kalo ditanya begitu.  Jadi yaa mari kita berasumsi saja.

Yg jelas.  I loved him once,  last forever..

Kalau ada bintang jatuh,  cuma satu permintaan aku.  Aku ingin punya kehidupan kedua dimana aku bisa hidup dengan Biru. Laki laki yang menurut pandanganku hampir sempurna. Luar ataupun dalam.

Biru, dirimu harus banyak bersyukur yaa.  Bisa jadi pribadi yang banyak dikagumi.  Tapi itupun kalau dirimu tau..  Mudah mudahan bisa tau yaa..
Kalo udah tau,  tetap rendah hati yaa jangan narsis.  Hehehe

I'm beyond happy when you need me and texting me "deek"... Hehehhee.  I miss that so much..

Kalo Daniel Bedingfield bilang gini...
Cz I miss you,  body and soul so strong that it takes my breath away.  And I breath you,  into my heart and pray for the strength to stand today..
Cz I love you,  whether its wrong or right.  Though I can't be with you tonight,  you know my heart is by your side..

Ya,  if your not the one Biru..  But lucky you,  you are the only one..

Keep being you, dearest Biru..  I Love you as always..
And I miss you so....


(Terinspirasi dari cerita seorang sahabat. Terimakasih sudah membaca)

Jumat, 07 Oktober 2016

Perbedaan Generasi dalam Dunia Kerja

Perbedaan Generasi..

“Ihh nyebelin deh bos gw susah banget diajak komprominya. Mikirnya ,msh konservatif bgt, gak mau trima perubahan"

"Duh, kapan dikasih feed back nya sih ini laporan gw. Kayaknya udah 3 hari yg lalu gw kasih. Tapi kok blm di feed back juga yaa"

Dua kejadian seperti ilustrasi di atas mungkin sering dialami oleh para new comer dalam sebuah organisasi di dalam atmosfer pekerjaan sehari-hari. Terutama, jika memilki atasan yang usianya terpaut lumayan jauh, sekitar usia 40 atau 50 tahun. 
Konflik seperti ini pasti sering bgt dialami. Karena tidak tahu penyebabnya apa dan bagaimana menghadapi situasi itu, banyak pada new comer yang akhirnya give up dan memilih untuk resign karena merasa sulit beradaptasi. Melalui tulisan ini, saya ingin mencoba untuk sharing sedikit mengenai salah satu hal yang mungkin menjadi stimulus terjadinya kondisi tersebut.

Ada sebuah teori yang disebut sebagai Generation Theory (Teori Generasi). Pengetahuan ini saya dapatkan ketika mengikuti training dan sharing session dengan teman-teman sesama HRD. 
Dalam lingkungan kerja saat ini di tahun 2016, kemungkinan ada 3 generasi yang berkolaborasi dan menciptakan dinamika dalam lingkungan pekerjaan sehar-hari, yaitu : 

1. Generasi Baby Boomers, generasi ini lahir pada saat terjadinya perang, sekitar tahun 1946 - 1964. Konon karena hal tersebut, mereka menjadi terbiasa dengan hidup survive dalam situasi yang mencekam. So thats why, generasi ini akan cenderung loyal jika sudah bekerja dalam perusahaan/organisasi. Apalagi, jika ditunjang dengan gaji yang dirasa sudah mencukupi kebutuhan. Para generasi ini pasti akan enggan untuk pindah ke "lain hati" a.k.a perusahaan lain. Di sisi lain, generasi ini cenderung konservatif dan sangat mengacu pada SOP. Pokoknya, kalo di SOP tertera seperti itu, ya harus seperti itu. Gak boleh berubah. Titik.

2. Generasi X, lahir pada kisaran tahun 1965 - 1986. Orientasi dari generasi ini adalah security atau keamanan. Jadi, kalo perusahaan sudah bisa memberikan mereka fasilitas kesehatan yang bagus, tunjangan transportasi yang mencukupi, ditambah dengan adanya soft loan utuk karyawan, generasi ini pun akan cenderung enggan untuk cari perusahaan lain. Generasi ini lahir dan terdidik pada era di mana komunikasi mulai berkembang, banyak dibangunnya tempat pekerjaan, infrastruktur, dsb. Oleh karena itulah, generasi ini konon juga dikenal penyabar dan bersedia mengikuti peraturan yang ada. Dalam artian, mereka masih mempercayai bahwa untuk berkarir di suatu perusahaan memang tidak bisa didapatkan scara instan. Everything needs process and you must be follow the process. Begitulah kira-kira.

3. Generasi Y , inilah generasi yang pada saat ini sedang dalam usia produktif. Lahir di kisaran tahun 1986-2000, generasi ini berkembang dalam lingkungan yang sudah lumayan "mapan". Kesempatan untuk bisa menuntut ilmu dengan nyaman, perkembangan komunikasi yang sedang pesat, dan juga kondisi orang tua yang mendukung, membuat generasi ini lebih cepat menyerap hal-hal baru. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang dikenal penyabar, generasi Y ini akan cenderung menyukai hal-hal instan atau serba cepat. Selain itu dalam mencari pekerjaan, generasi Y ini tidak hanya melihat gaji sebagai hal utama, tapi juga mementingkan adanya maintain personal life dan passion. Pokoknya, I love my Job itu harus dirasakan sama generasi ini. Jika mereka tidak merasakan itu, maka sudah dipastikan mereka akan mencari "pelabuhan hati" yang lain. Segala macam kemudahan yang didapatkan saat masa perkembangannya, membuat generasi Y melakukan inovasi-inovasi yang tergolong cepat. Inilah yang terkadang membuat generasi di atasnya kewalahan dalam mengendalikan generasi Y ini.

Sebenarnya, ada satu generasi lagi yang kemungkinan tahun depan batch pertamanya akan bermunculan di dunia kerja. Merekalah Generasi Z. Namun, karena saat ini adik adik generasi Z ini masih menikmati dunia sekolah, maka belum ada komparasi ketika berdinamika dalam lingkungan kerja. Asumsi sementara adalah karakteristiknya tidak jauh beda dengan Generasi Y. Hanya saja, mereka ada tendensi lebih “lebih cepat” lagi. 

Lebih cepat dalam hal apa? Masih belum dapat dipastikan. Let see next year yaa kawaan ...

Nah, perbedaan antar generasi di atas lah yang terkadang memicu konflik-konflik kecil dalam pekerjaan. Setiap orang dari masing-masing generasi tentunya membawa karakteristik pribadinya dan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal yang membentuk mereka seperti budaya, pola asuh orang tua, pendidikan, dsb. 

Solusi secara garis besarnya adalah dengan cara memahami karakeristik dari masing2 generasi, sehingga jika ada "miss" dalam pekerjaan dapat diselesaikan secara baik. 

Baik itu dari sisi generasi Baby Boomers, generasi X, atau generasi Y harus mampu memahami dan beradaptasi dengan siapapun rekan kerja. Karena sesuai  dengan teori seleksi alam, barangsiapa yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, maka lama kelamaan dia akan punah. 

Nah, gak mau kan punah hanya karena kita tidak mau memahami tentang karakteristik orang-orang yang ada di sekitar kita ??!

Selain itu, menjalin komunikasi yang efektif juga must have banget. Dengan menjalin komunikasi yang baik, maka secara perlahan kita akan bisa memahami dan beradaptasi. Komunikasi ini harus dibudayakan, karena menurut saya komunikasi adalah modal utama seseorang untuk sukses berinteraksi dengan lingkungan sekitar. 

So, Let’s respect the diversity of each generation and start an effective communication..  

Rabu, 05 Oktober 2016

Perjalanan Bangkit dari Kehamilan Ektopik


“Ectopic Pregnancy (Kehamilan Ektopik)”

Tergugah untuk share tentang pengalaman ini krna kebetulan ada teman yang saat ini sedang mengalami.

06 Desember 2014 saya menikah. Minggu ke-4 Februari saya tidak haid dan setelah 7 kali test pack barulah muncul dua garis merah samar. Bahagia, pasti. Setelah dua bulan menunggu, akhirnya moment ini datang juga.

06 Maret 2015 sehari sebelum perayaan resepsi ke-2 di tempat suami, kami periksa ke SpOG. Awalnya mau minta vitamin atau semacam obat penahan mual, karena memang saya mual muntah bukan hanya morning sickness. Kalo bahasa dokternya itu HeG. Dokter Obgyn saat itu memang sempat menawarkan untuk USG Transvaginal supaya kantung kehamilannya lebih jelas terlihat, karena menurutnya di usia kehamilan saya yang baru 6 minggu ini kantung kehamilan biasanya belum terlihat. Namun saat itu saya menolak, karena agak takut yaa mbayangi uSG Transvaginal itu. Jadilah USG perut biasa. Dan ternyata memang benar, gak terlihat apa apa di dalam rahim.

Dokter menyarankan saya untuk kembali lagi 2 minggu ke depan, dan sementara saya dikasih obat mual dan vitamin penguat janin.

08 Maret 2016 jam 16.00, kebetulan saya dan suami baru saja sampe rumah di Cilodong setelah seharian kemarin full jadi Raja dan Ratu (lagi). Saat itu, saya hanya merasa mual dan capek saja pasca kemarin berdiri seharian.

Jam 19.00, saya minta antar suami ke Al*am*di untuk beli jajanan. Sepulangnya dari Al*am*di, saya merasa perut bawah sebelah kanan saya sakit. Semacam kram. Saya rebahan sebentar. Suami menyuruh saya tenang, mungkin kecapean aja. Akhirnya saya tahan sakitnya sampe kebawa tidur.

Esok harinya tanggal 09 Maret 2015 saya pergi ke kantor seperti biasa. Dari pagi, perut sudah enakan sampe sore pas mau solat Ashar saya liat ada flek coklat banyak. Seketika saya panik, langsung deg degan ini kenapa??

Jam 16.00 saya pulang tenggo. Di perjalanan, saya bbman dan telponan dengan suami. Minta tolong searching ini kenapa. Memang ya, kalo googling itu serem-serem indikasinya. Akhirnya saya close tab google, saya bawa tidur sampe rumah.

Saya langsung ga enak makan, bawaannya maunya tiduran aja. Kepikiran, takut jadi satu. Campur aduk, sebenernya ini ngeflek kenapa. Akhirnya mama saya saranin untuk cek ke dokter. Dan besoknya saya izin ga ngantor, periksa ke Dokter Obgyn di rumah sakit yang beda dengan periksa pertama saya.

Dari USG perut memang belum terlihat ada kantung janin. Asumsi Dokter saya saat itu mungkin kecapean. Saya diminta bed rest 3 hari dan diteruskan minum penguat janin yang saya dapat dari Dokter sebelumnya. Kalo memang karena kecapean, seharusnya 3 hari sudah gak ngeflek lagi. Tapi kalo ternyata masih keluar, saya harus ada pemeriksaan lanjutan karena mungkin penyebabnya bukan kecapean.

3 hari di rumah mulus, bersih ga ada flek sama sekali. Hari Jumat tanggal 13 Maret 2016 saya masuk kantor. Saya pikir, Alhamdulillah ini sudah ga ngeflek lagi. Berarti ini kecapean saja.

Namun semuanya buyar tepat 15 menit sebelum bel pulang kantor. Sakit di lokasi perut yang sama, namun berlipat lipat lebih sakit.

Sambil gemetar saya minta tolong mba resepsionis kantor untuk pesankan taxi. Di perjalanan saya Cuma bisa senderan sambil coba hubungi suami saya yang saat itu sedang mengurusi acara pernikahan sahabatnya. Saya sampe nangis saat itu. Sakitnya gak bisa ditahan, campuur aduk dengan bingung dan takut. Kelirunya saya gak langsung ke RS saat itu, tapi pulang ke rumah. Jadinya sepanjang malam itu saya harus merasakan sakit sampe ga bisa tidur.

Akhirnya besok paginya tanggal 14 Maret 2015, tanpa didampingi suami saya dibawa ke UGD oleh Mama dan Uwa saya. Kondisi saat itu sudah benar-benar darurat. Berbaring pun sakit sekali, malah semakin sakit.

Sampai UGD saya langsung dibawa ke ruang praktek Dokter Obgyn. Alhamdulillah saat itu memang dokter yang periksa saya sebelumnya sedang praktek.

Mau gak mau, saat itu saya lansung diperiksa dengan USG Transvaginal. Daaannn ternyataaaa dari situ dokter saya nnngeluarin kkkata-kataa yg smpe saat ini masih terngiang-ngiang : “Ini hamil di luar kandungan”….

Hancur hati kayaknya saat itu. Di layar USG 2D saya liat ada gambar banyak semacam warna hitam dan ternyata itu sudah pendarahan di dalam. Janin saya tumbuh di saluran tuba fallopi sebelum dia sampai rahim. Karena memang bukan di tempatnya, akhirnya dia timbul gesekan dan menyebabkan pendarahan.

Benar-benar gak nyangka, apa yang pernah saya baca di google kejadian. Saya langsung dibawa ke ruang rawat inap, dan setelah USG itu saya mulai pendarahan. Banyak. Sangat banyak. Sampe saya harus pakai pampers ukuran dewasa.

Rasa sakitnya belum hilang juga. Sudah 2 botol infusan antibiotic, tapi rasa sakitnya masih terasa. Kalau sekarang saya bisa bandingkan dengan mulas melahirkan (saya sempat merasakan mulas pasca induksi saat mau coba melahirkan Aluna secara normal), bobotnya sama. Bedanya, kalau mulas melahirkan rasa sakitnya dari ujung kepala sampai kaki. Kalau KE, rasa sakitnya terpusat hanya di bagian perut bawah yang bermasalah. Kebetulan saat itu janin saya tumbuh di saluran tuba fallopi sebelah kanan. Jadi, sakit nya di perut bawah sebelah kanan.

Kayaknya mau nafas pun sesak karena nahan sakit, belum lagi bleeding hebat yang terus menerus sampe kurang lebih 3 hari.

Karena HB saya masih 10, dokter saya tidak langsung menyarankan untuk operasi. Setelah seminggu rasa sakitnya berkurang, saya diperbolehkan pulang. Untuk janin yang masih ada, masih dibiarkan dulu untuk keluar secara alami (harapannya).

Kurang lebih 2 minggu istirahat di rumah dengan kondisi yang masih bleeding, akhirnya saya memutuskan untuk konsultasi ke dokter saya meminta untuk diambil saja dengan jalan operasi. Mengetahui bahwa saya sanggup dan mau, akhirnya tanggal 26 Maret 2015 saya menjalani operasi laparoktomi.

Sedih, hancur rasanya. Apalagi pas dikasih liat oleh dokter janin saya yang diambil dari saluran tuba fallopi. Dia masih sangat kecil. Baru berbentuk seperti udang. Itu anak pertama saya, walaupun dia belum bernyawa, tapi dia sudah pernah mencoba untuk tumbuh. Tapi apa daya, tempatnya berkembang tidak tepat.

Nak, kamu itu tetap anak pertama Manda….
Kehadiran kamu memang Cuma 8 minggu, tapi kamu bisa memperbaiki Manda menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ini adalah Kakaknya Aluna yang kami makamkan di belakang rumah..


Pasca operasi itu, saya pelan pelan menjadi pribadi yang lebih pasrah, nerimo, legowo. Kakak nya Aluna itu berhasil memperbaiki mindset saya bahwa segala sesuatu itu memang benar-benar tidak melulu berjalan sesuai dengan keinginan kita.  Yg kita mau cepat,  yg kita mau lancar,  ternyata memang di dalam kuasa Allah. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan menyerahkan semua kepada Allah.

Suami saya sangat supportif,  saya ditenangkan dengan keyakinannya bahwa mungkin kami masih diberi waktu lagi untuk pacaran halal. Jadi prinsip saya ssejak saat itu adalah just enjoy make love tanpa dibayang bayangi jadi hamil atau engga. Saya juga menyiapkan mental kalau ditanya, "udah isi atau belum". Pertanyaan yang sblmnya menjadi momok dan membuat saya "ngotot" ingin hamil.

Dan ternyata memang saat kami sudah dalam kondisi pasrah dan meneriima dengan tangan terbuka segala takdir Allah, disitulah Allah menunjukkan kekuasannya..

26 Maret 2016 saya operasi KE, 20 April haid pertama pasca operasi,  20 Mei belum haid,  21 Mei test pack hasilnya ada garis merah dua. Jelas!

Kaget bukan main, orang pertama yang saya hubungi adalah Obgyn saya. Dia bilang itu positif dan besok harus Transvaginal buat liat letaknya di dalam atau luar rahim.

Saya tetiba nangis,  takut. Sambil bbman sama suami saya,  saya pun ketiduran masih sambil megang test pack.  Kadang lucu kalo inget itu. Padahal kan ada suaminya yaa,  ngapain juga takut?  Hehhee.  Emangnya MBA??  Kan ada yg tanggung jawab juga..
Saat itu kepikiran saya kalo misalnya di luar lagi gimana,  masa harus operasi lagi??  Ya Allaaah.  .

Sampe besoknya hasil USG Transvaginal menyatakan kalo kantung hamil saya ada di dalam rahim.  Dokter saya sampe spontan bilang "Alhamdulillah,  di dalam rahim". Padahal beliau non Islam..

Seketika perasaan saya plong, lega, bahagia, bersyukur gak nyangka.  Kok ya cepet banget ya Allah..  Padahal sebenarnya saya masih harus istrahat dulu paling engga 6 bulan.  Baru boleh program hamil lagi..  Tapi ini di luar dugaan,  baru sekali haid udah hamil normal..

Dan sampailah di tanggal 09 Januari 2016 janin ke 2 kami lahir dengan kondisi normal,  sehat,  dan membawa kebahagiaan,.
Aluna,  jadi cahaya penerang keluarga..

Jadi intinya,  KE itu bukan akhir dari segalanya.  Bisa jadi,  KE adalah awal dari kebahagiaan buat tiap pasangan.  Jadi,  untuk para calon ibu yang saat ini sedang mengalami KE atau kehilangan janin dalam bentuk apapun,  ayok bangkit dan semangat. Tunjukkan kepada Allah kalau ujian ini memang mampu dilalui, kalau kita tetap husnuzon sama Allah,  bahwa gak ada yang lebih besar selain kuasa Allah.

Dan melalui tulisan ini saya mau mengucapkan terimakasih buat Suami, Budi Sutomo Putra.  Terimakasih karena sudah membuktikan kesediannya menjadi partner hidup dikala susah ataupun senang..  Terimakasih telah mencintaiku apa adanya..  Hehehe..

Lalu untuk Dokter Obgyn saya, dr Johanes Taolin, SpOG.  Terimakasih atas perawatannya,  kesediannya menjawab segala kekhawatiran saya sebagai calon Ibu muda. Beliau ini recommended banget loh btw.  Praktek di RSUD Cibinong dan RS Sentra Medika Cibinong.  Gaya penjelasannya memang blak blakan.  Tapi sangat jelas.  Beliau juga care sama pasiennya.  Termasuk dokter yang selalu on time visit pasiennya. Jadi pasiennya ga perlu nunggu nunggu di visit sama dokternya.  You are superb, doc!!

Okey,  sekian tulisan saya mengenai pengalaman KE inii.
Last but not least, Tetap semangat,  keep positive thinking,  dan serahkan semuanya kepada Allah..

Sabtu, 15 Juni 2013

I love my job

I love my job.. ya, kiranya memang itu yang mesti dirasakan oleh semua pribadi yang setiap hari menjalankan aktivitasnya untuk mencari rezeki..
Baik itu sebagai seorang karyawan ataupun pengusaha. Pekerjaan adalah hal yang paling intens menemani kita setiap hari. At least selama 8 jam x 5 hari, kita bersama pekerjaan kita.
Bukan hanya dijalankan sebagai kewajiban semata, pekerjaan juga hendaknya dijadikan layaknya seorang sahabat baik, yang dapat membantu kita untuk mengasah potensi diri hingga pada puncak teratasnya kita dapat mencapai aktualisasi diri.  Mencintai pekerjaan yang dijalankan juga dapat menghindari diri kita dari reaksi emosi negatif yang mungkin saja ditimbulkan dari aktivitas pekerjaan sehari-hari. Stress, kejenuhan, konflik dengan partner kerja merupakan hal yang tidak dapat dikontrol, karen stimulusnya bisa saja datang dari source yang tidak kita duga.
Oleh karena itulah, jika sudah timbul rasa cinta dengan pekerjaan yang kita jalani, pastilah segala hambatan atau kondisi yang tidak menyenangkan dapat kita atasi dengan baik.
Tidak mudah memang untuk benar-benar mencintai pekerjaan. Namun, setidaknya kita harus memulainya, karena itulah jembatan untuk menuju sebuah aktualisasi diri.

search through Amazon